Karantina

20200316_084347

 

Saya masih takjub dengan betapa cepat wajah dunia berubah. Bahkan hanya dalam hitungan bulan. Tren mobilitas berubah, termasuk gaya hidup, pola konsumsi, keperdulian terhadap kebersihan dan sanitasi, termasuk mulai hilangnya gestur sapaan seperti cipika-cipiki. Kabar baiknya orang yang sudah nggak mau salaman dengan bukan mahram sudah bukan sesuatu yang aneh lagi, yeay! *eh 🀭
Padahal dalam situasi normal, merubah kultur ini ga gampang. Seperti kultur liburan misalnya. Sebelum wabah ini datang, pandangan orang mengerucut pada kesimpulan bahwa piknik merupakan kebutuhan dasar setiap jiwa.

“Ora piknik ora asik.”

“Kurang piknik membuat raine pucet.”

“Piknik dhisik ben ora ngamukan.”

Dan seterusnya. Ga bisa liat tanggal merah dikit, semua orang bingung ingin keluar rumah, termasuk saya. Karena nomaden, rasanya tiap pindah kota belum afdol kalau tidak menjelajah dari hulu ke hilir. Apalagi Jogja ini tempat wisata banyak banget. Mulai dari museum, spot instagramable, wisata sejarah, tempat outbond, gunung, pantai, hutan, semua jadi obyek wisata. Bagaimana gak mupeng kan, dasarnya ibuk Sara seneng mbolang. Sebenarnya mindsetnya simple, mumpung mbolangnya ga butuh keluar duit banyak, dekat, dan santai ga diburu waktu macem turis kalo lagi plesiran. Cuma gitu aja sebenarnya. Kalo mau mau liburan yang butuh effort lebih banyak belum tertarik sih, karena cicilan belum lunas *eh πŸ™Š.

Lalu, wabah itu datang, si Corona. Sekolah libur, semua dihimbau buat tetap di rumah. Jangankan piknik, keluar beli telor aja mikirnya udah paranoid. Fokus bagaimana caranya meminimalisir tertular virus. Tiada masker cadarpun jadi. Hand sanitizer bolak-balik dipake, pulangnya ganti baju langsung mandi. Tapi bukan tutorial menangkal virus yang mau saya bicarakan kali ini, melainkan tentang merubah haluan.

Jadi ibuk mau berlayar kemane buuuk? 🀣

Gini gaes, ibuk Sara cuma mau ngomongin masalah nengok aja sih ini pake preambule yg panjang banget wkwkwk.

Ketika dunia luar terlihat hingar bingar, kadang tanpa sadar kita akan selalu menambah “sebaris lagi” keinginan. Ingin ini, itu, ga ada habisnya. Macem Doraemon yang punya kantong ajaib, doktrin kapitalisme sepertinya πŸ˜…. Bagus sih buat motivasi diri biar terus berusaha, biar keluar versi terbaiknya. (Catatan: teorinya memang seperti ini gaes).

Tapi tapi tapi, semua hal ada efek sampingnya kan. Ketika terlalu fokus sama sesuatu di luar sana, kadang yang ada di dalam malah ga keurus. Padahal apa yang ada di dalam jauuh lebih penting daripada hal-hal di luaran sana.

Pertama, keimanan. Sebenarnya semua tulisan saya seringkali semacam pengingat buat diri sendiri sih meskipun kadang polanya macem orang pidato sambutan di kecamatan 🀣. Termasuk yang ini, siapalah saya mau ngingetin masalah iman. Dhuha aja masih sering keteteran. Tapi tetap ditulis dong, biar kalo dibaca lagi amnesianya ilang. Apakah shalat kita (saya) udah bener? Bacaan quran apa kabar? Kapan terakhir kali kita (saya) mencoba menelisik maksud di balik firman Allah? Doa-doa harian? Dilanjutkan dengan merenung atau lebih dalem lagi berkontemplasi.

Bagaimana sikap kita (saya) selama ini sebagai hamba, mengira2 apakah Allah sudah ridho dengan segala hal yang biasa kita (saya) lakukan? Kalau Allah nggak ridho tapi tetap kita (saya) lakukan, sebenarnya kita (saya) lagi nyari apa? Nyoba jujur sama diri sendiri meskipun kadang susah karena seringnya mencari pembenaran.

Kedua, ada diri kita sendiri yang sesekali perlu kita amati lebih seksama. Ingat nggak, kapan terakhir kali menyapa hati kita? Bagaimana kabarnya? Apakah dia sudah bahagia? Apakah dia berkembang? Atau jangan2 masih berkutat dengan inner child yang belum tuntas? Mumpung di rumah banyak waktu buat rebahan, mungkin hal ini bisa kita coba lakukan demi kesehatan mental yang sesungguhnya.

Ketiga, manusia kecil yang lagi libur sekolah. Ini masalah serius gaes, ga bisa main-main. Titipan dari Allah yang suatu saat akan ditanyain lagi, bagaimana kondisinya? Apakah fitrah keimanannya tumbuh subur atau justru tumbang akibat kelalaian orang tua? (Nulisnya sambil gemeter). Jadi gini, sebelum kita ngajarin semua hal pelik itu pada mereka, saya cuma mau ngumpulin seluruh momijen yang punya utang bonding, perlekatan, atau apapun istilah untuk intimacy antara anak dan orang tua, yuuuk kita cicil biar cepet lunas. Sebelum mereka semakin besar, sebelum ada efek serius yang ditimbulkan, sebelum kita bertemu dengan kata “terlambat.” Anggap saja ini semacam “bonus waktu bersama” yang Allah kasi ke kita ditengah kalender akademik Indonesia yang padat merayap.

Keempat, nganu gaes. Agak malu sebenernya mau bahas. Tapi karena termotivasi oleh love bird yang seharian bisa rukun, saling sayang, mepet2an di dalam kandang, yang punya kan jadi panas semacam kalah start? Wkwkwkwk.

Saya mau bahas pasangan nih. Dalam pernikahan, ada yang disebut ekspektasi, dan hal lain yang disebut realita. Momijen yang pernah baca teorinya Sigmund Freud tentang Id, Ego, Super Ego pasti udah paham betapa kedua hal itu seringkali berbeda. Para momijen yang di alam bawah sadarnya berekspektasi bahwa kebahagiaan akan didapat ketika pasangan melakukan hal2 romantis seperti dalam drama korea. Sedangkan di dunia nyata, rata2 suami biasanya kikuk dan ingah-ingih untuk hal menye-menye semacam itu. Percayalah gaes, itu kalo nggak cepat diatasi malah jadi racun. Racun yang bisa nutupin mata kita dari kebaikan-kebaikan yang suami lakukan. Banyakin syukur ya gaes, coba itu suaminya digorengin telur ceplok dua biji sebagai tanda cinta. Diluar sana ada momijen yang tidak seberuntung kita, yang masih punya babang buat disayang. Pasti ada maksud Allah ngasi kita jodoh semodel itu. Pasti itu yang paling pas buat kita. Allah lebih tau yang terbaik untuk kita. Jadi yuk yuk jangan diomelin terus. Mumpung banyak papijen yang lagi WFH, pantengin itu kumisnya yang belum dicukur biar makin cinta *eh 🀣😴

Semoga semua daleman ini bisa kita rawat lebih sempurna sambil menunggu pandemi ini mereda. Semoga semua ikhtiar kita berbuah manis pada waktunya. Semoga kita tidak lagi salah fokus dengan apa yang penting dan berharga dalam kehidupan kita. Semoga setelah wabah ini enyah, kita bisa “menengok” keluar dengan lebih bijaksana.

Laa haula walaquwwata illa billah.

 
Yogyakarta, 23 Maret 2020.

Metafora Tuhan Dalam Novel Semua Ikan di Langit

Judul: Semua Ikan di Langit

Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Penerbit: Grasindo

Tahun terbit: 2017

Tebal: 260 halaman

Judul novel ini terkesan ringan, namun ternyata tidak demikian. Sejujurnya saya membeli buku ini karena iklan di salah satu online bookstore langganan saya. Caption dalam iklan tersebut berbunyi seperti ini:

“Semua Ikan di Langit ditulis dengan keterampilan bahasa yang berada di atas rata-rata para peserta Sayembara kali ini. Novel ini mampu merekahkan miris dan manis pada saat bersamaan. Dan, perbedaan mutu yang tajam antara Pemenang Pertama dan naskah-naskah lainnya, membuat dewan juri tidak memilih pemenang-pemenang di bawahnya.”

-Laporan Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2016-

Setelah membaca itu, ada pertanyaan yang menggelayut manja di benak saya (Kalau bahasanya jadi agak lebay begini mohon dimaklumi ya, mungkin efek kebanyakan ngintip berita kawinannya Syahrini πŸ˜‚). Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana sih mutu yang dibicarakan oleh para dewan juri itu?

Ketika buku pesanan datang, kalimat pembuka di halaman pertama mampu mengikat saya sampai halaman terakhir:

Ini adalah ingatan pertamaku: ikan terbang dan bintang. Dan selama bertahun-tahun, aku percaya bahwa ketika seseorang makan ikan, ia juga memakan bintang. Dan bahwa di dalam perutnya ada puluhan, ratusan, jutaan konstelasi yang belum pernah dilihat siapa pun. Konstelasi miliknya sendiri. Di langit pribadi dalam tubuhnya, mengapung bersama usus dan lambung dan semua organ dalam. Inilah kenapa perut orang jadi gendut kalau makan terlalu banyak: karena mereka perlahan-lahan menjadi planet, dimulai dari perut yang menyimpan begitu banyak konstelasi bintang.

(Hal. 1)

Kalimat pembuka yang absurd seperti itu membuat saya tidak lagi heran mengapa dalam buku ini tidak ada daftar isi, dan tokoh utamanya adalah benda mati (bus Damri).

Secara umum buku ini menceritakan perjalanan Bus Damri gendut bersama anak laki-laki kecil yang dia panggil Beliau dengan sekelompok ikan julung-julung melintasi ruang dan waktu. Kehidupan si Bus yang awalnya biasa-biasa saja berubah ketika Beliau mengajak Bus ke luar angkasa, meninggalkan trayek Dipatiukur-Leuwipanjang yang biasa dia lewati. Beliau ini merupakan penumpang yang istimewa. Beliau gemar menjahit dan mempunyai kekuatan ilahiah dalam menciptakan segala sesuatu.

Dalam perjalanan itu, mereka bertemu dengan banyak orang dan peristiwa, bahkan juga binatang. Mereka bertemu dengan Bastet, seekor kucing yang berasal dari kamar paling berantakan di dunia, tukang roti yang baik hati, tukang sepatu yang mencoba menjadi pintar, dan banyak tokoh lain yang bakalan panjang jika dijelaskan satu-persatu. Mereka juga bertemu dengan Nadezhda, seekor kecoa bule dari Rusia yang sangat cerdas dan penyayang. Kecoa ini akhirnya menjadi teman dekat Bus dan keduanya sering berdiskusi tentang banyak hal. Sebagai penganut faham anti kecoa, saya sempat bertanya-tanya, kenapa harus kecoa sih yang digambarkan penuh kasih, peka dan pintar? Setelah mengetahui bagaimana akhir hidup Nadezhda yang tetap saja sombong dengan meragukan Beliau padahal ada banyak petunjuk dan bukti yang bertebaran di sekitarnya, secara subyektif saya sepaham dengan mbak Ziggy πŸ‘». Dari puluhan tokoh yang ada di buku ini, Ziggy berhasil membuat tiap karakternya unik dan otentik.

Bagi saya ini adalah novel tentang cinta. Bus Damri yang perlahan-lahan mencoba mengenal dan memahami Beliau akhirnya jatuh cinta pada Beliau. Beliau yang manis, yang selalu memperhatikan; yang tidak pernah tidur; tidak pernah istirahat; tidak pernah lelah; bisa menjahit hati yang patah; penyayang namun juga bisa marah; gemar menciptakan berbagai hal; dan gembira mendengar puji-pujian akan hasil karyanya itu, membuat Bus jatuh cinta padanya.

“Kebahagiaan Beliau melahirkan bintang. Kesedihan Beliau membunuh keajaiban. Kemarahan beliau berakibat fatal.”

(Hal. 62)

Selain tentang cinta, buku ini juga menceritakan tentang kehilangan, kehidupan, pertemanan, dan juga kesetiaan. Dengan jumlah halaman yang tidak terlalu tebal, bahasan yang ada di dalamnya cukup kompleks. Bahasa “dewa” yang sebelumnya saya bayangkan akan menghiasi buku ini ternyata tidak ada. Narasinya sederhana namun maknanya dalam. Bahkan gaya bertutur Ziggy seperti bahasa yang banyak kita temui pada buku anak. Tetapi justru dari pembahasan yang sederhana dan lugas ini pembaca jadi bisa merenungkan banyak hal. Mungkin penuturan seperti inilah yang membuat para juri sepakat tentang keterampilan bahasa Ziggy yang di atas rata-rata.

Cukup tentang isi novelnya, sekarang mari kita berbicara hal yang lebih penting. Adakah yang pernah membaca novel Little Prince karangan Antoine de Saint-Exupery? Nah, buku ini mengingatkan saya pada buku legendaris itu. Jika dalam novel Little Prince pasangan/wanita digambarkan dengan mawar, dalam buku ini Ziggy menggambarkan Beliau sebagai metafora dari Tuhan.

Setiap kisah dan tokoh yang diceritakan dalam buku ini merupakan alegori dari hubungan manusia dengan Tuhan. Ada banyak metafora yang digunakan Ziggy untuk mencoba mengurai, memahami sifat maupun takdir Tuhan yang terkadang sulit dipahami oleh manusia. Dia terkesan menyederhanakan kejadian yang terjadi di luar kuasa manusia, agar lebih mudah dipahami dan dicerna. Ziggy mengira-ngira apa sih yang dirasakan Tuhan? Apa sih maunya Tuhan dengan menciptakan segala hal?

“Akan tetapi, Beliau tetap tidak bicara, tidak menapak. Namun perasaan yang begitu kuat memberi tahu saya bahwa, meskipun Beliau berbuat demikian, bukan berarti Beliau tidak mau dipahami. Mungkin ini adalah ujian. Apakah saya akan terus mencoba memahami dan memperhatikannya, meskipun Beliau tidak berkomunikasi langsung kepada saya?”

(Hal. 33)

Menyadari kenyataan ini, lagi-lagi batin saya bergejolak (buk, plis buk, itu lho bahasamu πŸ˜…). Sebagai cerita fiksi, novel ini sangat imajinatif dan memikat. Membaca buku ini membuat saya kembali diingatkan betapa cintanya Allah kepada manusia.

Beliau mencintai saya terlebih dahulu. Dan saya mencintai Beliau karena Beliau mencintai saya seperti itu.

(Hal. 240)

Kisah yang terjalin di dalamnya menghangatkan hati. Namun saya tidak sepakat dengan beberapa metafora yang digunakan oleh penulis, seperti metafora yang digunakan Ziggy untuk menggambarkan Tuhan.

Sebagai muslim, saya mengimani bahwa Allah berbeda dengan makhluknya. Dalam ilmu Tauhid disebut Mukhalafatulil Hawadits yang artinya Allah berbeda dengan ciptaanNya. Keputusan yang sembrono ketika memetaforakan Allah yang maha sempurna dengan penampakan seorang bocah lelaki kecil yang kesepian, mengambang dan butuh teman seperjalanan. Meskipun terkesan “lebih mudah dipahami”, celah-celah seperti itu dikhawatirkan akan menyebabkan hal yang fatal dalam memahami tauhid.

QS Asy-Syura 42:11

“… Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia yang Maha Mendengar,Maha Melihat.”

Walaupun dibalut dengan kisah dan diksi yang indah, namun tetap terasa ada yang salah. Akan tetapi karena ini adalah kisah fiksi, intepretasi pembaca tentu saja berbeda-beda. Saya hanya menyarankan agar novel ini dibaca oleh pembaca yang benar-benar sudah dewasa.

Yogyakarta, 12 Maret 2019

Kebahagiaan Mantan Pemimpin Upacara

Challenge itu selalu menyenangkan, apalagi untuk ibu-ibu seperti saya yang suka diskonan dan barang gratisan. Asal ada kata berhadiah aja langsung bahagia. Padahal juga belum tentu dapat hadiahnya πŸ˜‚. Eh tapi ya, ibu itu harus pinter membahagiakan diri sendiri kan. Karena katanya ibu yang bahagia akan berpengaruh pada kebahagiaan keluarga.

Ibu yang bahagia akan mampu membahagiakan anak-anak dan juga si babang tercinta *uhuk.

Bahagia itu wilayah privat karena standar kebahagiaan tiap orang tidak sama. Apabila menilik dari perkumpulan “Mamak Rempong Muda Ceria Berbudi Luhur dan Bijaksana” variasinya bisa banyak. Ada yang katanya baru bisa bahagia kalau punya asisten rumah tangga sekompi seperti mbak artis Nia Ramadhani, sementara kebahagiaan ibu lainnya bisa sesederhana ketika suaminya bantuin gosok kamar mandi. Ada ibu yang senyumnya baru merekah ketika dapat hadiah berlian segede ikan (ikan apakah ini πŸ˜‚), padahal ibu satunya lagi bisa langsung sumringah ketika dibeliin pak suami choki-choki.

Nggak ada yang salah sih, asal jangan jedotin kepala ke tembok aja ya mak kalau harapan tak sesuai kenyataan πŸ‘».

Kalau saya sendiri sebenarnya gampang dibikin bahagia. Cek kalender udah tanggal 25 aja hati rasanya aman damai sentosa. Nyebrang jalan digandeng si babang juga hati rasanya berbunga-bunga *ngeek. Diam-diam dicium anak, diam-diam dimasakin, diam-diam dipijitin (mulai ngelunjak).

Menulis, juga membuat saya bahagia. Sebagai mantan pemimpin upacara, ada kesedihan tersendiri ketika suara saya tidak tersalurkan dengan benar. Karena tidak ada lagi upacara yang bisa saya pimpin, sepertinya menulis bisa menjadi sarana 🀣. Dalam writing journey yang saya alami, ada satu pemahaman baru yang sangat membahagiakan. Kita tidak mungkin menuliskan sesuatu yang tidak kita kuasai. Karena itu jika ingin menulis, kita harus banyak membaca dan melakukan riset. Disini saya paham, bahwa sepertinya Allah sedang mengajari saya banyak hal. Allah sedang menyuruh saya belajar.

Oh iya, dalam waktu dekat insyaAllah ada buku yang akan launching, jangan lupa dinanti ya kemudian dibeli. Sekian dan terima kasih πŸ˜‚ (terakhirnya ngiklan).

#rumbelliterasiIPJogja

#tantanganmenulis

#tantanganfebruari

#aksarabercerita

Kawan Lama

Dalam sunyi, dirinya menampak dalam wujud asli.

Dalam sunyi dia menemukan dirinya sendiri.

Kemana celoteh riang yang biasanya tak kunjung tenang?

Dia mencari…

Oh, rupanya si badut sedang pergi.

Sepi.

Siap atau tidak, dia harus mendengarkan batinnya sendiri.

Empat rasa leluasa menari dalam hatinya.

Memantik badai yang dia kira sudah lama reda.

Ah… kau rupanya,

Kawan lama.

Yang dulu terusir oleh riuhnya semesta.

Berapa tahun cahaya kita tidak berjumpa?

.

.

.

Yogyakarta, 2019.

Kimikimya

Sedang Membicarakan Roro Jonggrang

Ada hikmah dari setiap kisah, meskipun itu hanyalah mitos atau legenda (eng ing eng…mulai deh πŸ˜‚).

Kali ini saya membicarakan mitos yang berputar di sekitar candi Prambanan, candi Sewu, dan candi Ratu Boko yang tidak jauh-jauh dari kisah seorang puteri yang bernama Roro Jonggrang. Konon itu puteri cakepnya kebangetan, sampai musuhnya, si Bandung Bondowoso jatuh cinta kemudian ngajak nikah. Si putri ogah nikah sama orang yang telah membunuh ayahnya, tapi takut juga kalo langsung nolak karena Bandung Bondowoso adalah seseorang yang sakti mandraguna. Akhirnya si puteri membuat permintaan yang tidak masuk akal. Minta dibikinin sumur sama seribu candi dalam waktu satu malam (hikmah: orang cakep mah bebas πŸ˜‚πŸ€£).

Pertama, Bandung Bondowoso membangun sumur. Ketika sumur sudah jadi, si puteri meminta Bandung Bondowoso nyemplung ke dalam. Luar biasanya si Bandung manut, padahal niat asli puteri mau menimbun lelaki itu hidup-hidup. (hikmah: orang cantik itu cobaan, jenderal! πŸ˜‚πŸ€£).

Marah dong si Bandung, sebagai lelaki dia merasa egonya telah dipermainkan oleh wanita *ngeek. Tapiii, setelah dirayu2 sama si puteri, si Bandung luluh juga. Malah menyanggupi permintaan kedua, yaitu membangun seribu candi untuk sang puteri (hikmah: wahai wanita, belajarlah ngegombal).

Dalam proses pembangunan candi, dengan kesaktiannya si Bandung Bondowoso meminta bantuan Casper dan sejenisnya. Si puteri dilanda kegalauan karena tidak menyangka pembangunan seribu candi sepertinya benar-benar akan selesai dalam waktu satu malam. Tidak kehabisan akal, puteri minta bantuan dari seluruh perempuan di kerajaan untuk membakar jerami di sebelah timur, agar langit timur terlihat terang. Nah, kali ini yang ketipu bukan si Bandung Bondowoso, tapi para ayam jago yang ujug-ujug berkokok mengira pagi telah tiba. Mendengar ayam berkokok, para Casper pulang karena sepertinya mereka hanya mengambil shift malam. Padahal candi yang sudah jadi ada 999 biji. Diteriakin sama Bandung mah bodo amat para Casper tetep ngeyel pulang (hikmah: kalo punya pegawai lembur, bayarannya jangan ditunda-tunda ya πŸ˜…).

Ditipu untuk kedua kalinya, kali ini si Bandung Bondowoso yang sudah begadang semaleman plus kurang kasih sayang benar-benar murka. Kecantikan Roro Jonggrang tak lagi bisa menyelamatkan pemiliknya. Akhirnya Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu untuk melengkapi jumlah candi menjadi seribu. (hikmah: meskipun cantik, jangan kau coba mempermainkan hati lelaki *tsaaah 🀣).

Pada awalnya, Roro Jonggrang selamat dari pedang musuh karena kecantikannya. Akan tetapi bayangan menikah dengan orang yang dibenci juga merupakan horor tingkat tinggi. Situasi yang tepat untuk menggambarkan kondisi saat itu adalah: keluar dari kandang singa, kemudian masuk ke kandang buaya. Saya amaze dengan cara Roro Jonggrang memaksimalkan potensi kecantikan yang dia miliki untuk mengelabui musuhnya. Meskipun tidak berakhir seperti yang dia inginkan, at least dia sudah mencoba. Satu hal yang melekat dengan kisah ini adalah: Mau dilahirkan jadi orang cantik ataupun tidak, segala hal tentang hidup ini adalah ujian, Jenderal…

Note: model di dalam ilustrasi hanyalah pemanis, tolong fokus sama candinya saja πŸ˜‚πŸ‘».

Yogyakarta, 9 Januari 2019

Pooh Dalam Dunia yang Renta

“Kita hidup di zaman ketika orang yang bersikap lembut dianggap lemah, sedangkan orang yang kasar dipuja-puja sehingga arogansinya menjadi semakin perkasa”.

Mungkin karena zaman semakin kompleks sehingga orang jadi kebal dengan sesuatu yang wajar. Lihat saja film superhero zaman now. Gabole sebut merk ya, ntar kena semprit. Sepertinya udah bingung cerita mau diapain lagi semua superhero pada ngumpul jadi satu dengan adegan laga yg semakin heboh.

Dulu zaman masih seuprit saya inget liat film Samson di TVRI (aduh, jadi ketauan deh umurnya🀣). Punya body kebal bacok aja sambil gegayaan ala binaraga gitu udah bisa jadi superhero. Kalo zaman sekarang mau jadi superhero lebih syusyah. Harus bisa teleportasi, atau mentransformasi sel tubuhnya jadi super mini. Atau harus jadi anaknya Dewa dulu dan punya kemampuan melewati portal antar dunia. Harus tahan malu juga karena aturan pake sempak dan beha gabole sama dengan orang kebanyakan. Kalo sempaknya nggak keliatan nanti lisensi superheronya dicabut (udah mulai ngarang 🀣🀣). Yah pokoknya gitu deh, minimal harus bisa ngelawan hukum gravitasi, merayap-rayap di atap dan tembok tinggi.

Penjahatnyapun lebih freak dan krengki. Kerjaannya nggak cuma keliling hutan ala Mak Lampir yang sepertinya hobi banget mendelik kaya’ orang nggak pernah kelilipan, penjahat film masa kini nafsu menghancurkannya udah kaya’ mau ngeremet bumi. Sepertinya bingung obyek apalagi yang bisa dijadiin sasaran. Belum lagi barbarnya film zombie. Potong, iris, gergaji, pukul pake godam, dan sebagainya.

Saya baca cuplikan wawancara mbak Milenium yang kesebar di twitter kemarin, pas ditanya apa nggak takut liat video-video pemenggalan kepala di group pembibitan teroris yang dia ikuti?. Dia jawab kalo awalnya takut, tapi karena video pemenggalannya terus di update, lama-lama liatnya biasa aja. Bahkan ada tutorial gimana cara menggal kepala orang. Speechless ga sih bacanya?. Salah satu bukti bahwa stimulus visual yang berkesinambungan bisa sangat mempengaruhi sudut pandang seseorang. Jadi meskipun saya dan si mbak teroris punya kesamaan, sama-sama biasa ngangkat galon, tetapi outputnya jadi nggak sama. Karena yang sering saya liat bukan adegan penggal kepala, tetapi srimulat (tapi bo’ong πŸ˜…). Jadi kalo si mbak Milenium bercita-cita bisa manggul senjata di Suriah, saya maunya dipanggul sama babang cinta aja *eeaaa πŸ˜‚πŸ€£.

Bukan hanya kekerasan saja yang sudah overdose. Bahkan untuk takaran kebahagiaan, manusia sudah jadi sangat serakah. Serasa nggak cukup menutup cerita dengan “Akhirnya mereka hidup bahagia”, fantasi ending bahagia zaman sekarang adalah jadi benar-benar bisa hidup selamanya, nggak menua (jadi nggak bingung numpuk cream anti ageing), dan kaya-raya. Vampir lagi naik pamor, ditambahin kemampuan supranatural bisa nebak masa depan, bisa memprediksi naik turunnya saham. Cantik, ganteng, kaya, nggak bisa mati, kulitnya bagus, body bagus. Nggak perlu botox jidat dan tarik benang aptos buat mempercantik diri. Cukup mintalah digigit sama setan, anda akan mendapatkan kecantikan paripurna. Lain ladang lain belalang, dulu vampir ditendang, sekarang vampir disayang. Kekhayalan yang luar biasa. Keserakahan yang overdose. Penuhanan materi dan keduniawian, naudzubillah. Kebanyakan micin kalo saya bilang.

Intro kepanjangan, kita bahas Pooh aja sekarang. Sebenarnya apa sih yang menarik dari cerita klasik Pooh?.

Pooh digambarkan sebagai beruang yang rada telmi tapi baik hati dan setia kawan. Temannya banyak. Ada Eeyore keledai tua yang punya masalah self esteem dan setelah saya amati ada beberapa indikasi depresi ringan. Rabbit adalah kelinci yang sok tau dan memiliki kemampuan mengorganisir orang (Ada sedikit kemiripan sama caleg jaman sekarang ga? *eh 😜). Warga hutan menganggap Rabbit pintar dan punya otak. Namun menurut Pooh justru karena itu Rabbit tidak pernah memahami apa pun, Rabbit egois dan hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Ada Owl burung hantu yang jaim dan berusaha mempertahankan stigma “bijaksana” yang dimilikinya (padahal aslinya dia sering bingung juga kalo ditanya-tanya). Tigger yang polos, ceria apa adanya, juga Piglet yang lumayan bisa diajak mikir meskipun penakut. Selayaknya tidak ada cerita yang sempurna, sepertinya ini yang aneh dalam kisah ini. Kenapa yang dibikin bisa mikir, mengerti tata krama malah babi? πŸ˜…. Tidak ketinggalan tokoh Kanga, mamak rempong yang mendedikasikan hidupnya buat ngurusin Roo, anak kangguru yang berlimpahan kasih sayang. Tipe ibu-ibu pengamat yang dengan sekali lihat bisa mengetahui bahwa walaupun Tigger berbadan besar, sebenarnya dia membutuhkan banyak kasih sayang. Pola asuh Kanga yang penuh kasih sayang namun tegas menjadikan Roo fasih mengatakan “Ya, Rabbit”, dan “Tidak, Rabbit” daripada siapa pun di hutan. Roo punya pendirian.

Ceritanya berputar pada kehidupan para hewan di hutan Seratus Ekar. Tetapi A.A. Milne membubuhkan karakter yang luar biasa di setiap tokohnya. Entah berapa lama waktu yang dia habiskan untuk mengamati kehidupan orang-orang di sekitarnya, sebelum bisa menciptakan penokohan seperti ini.

Dari sekian banyak karakter yang diciptakannya, A.A. Milne seperti ingin mengedepankan satu hal: Bahwa pada dasarnya ada kebaikan dalam diri semua orang. Di zaman bom bunuh diri merajalela dan indikasi krisis kemanusiaan di beberapa belahan dunia seperti sekarang ini, semoga saja nilai-nilai positif yang terkandung dalam buku ini masih relevan untuk dipegang. Semoga kita semua bisa tetap waras di tengah dunia yang semakin renta. Semoga.

Sara Rosalinda
Yogyakarta, 30 Mei 2018

Taman Pintar Yogyakarta

Sebelumnya kita nggak pernah tau ada wahana seperti ini di Jogja. Kita taunya malah dari penjual bakmi super enak di dekat Tugu Jogja di hari ke-tiga. Berbekal informasi dari si bulek gaul itu di hari ke-empat kita pesan go-car dengan tarif Rp.12.000,- dari hotel. Eh iya, sebut saya kudet. Tapi memang aplikasi go-jek baru saya instal disini sih, dan seneng banget karena tarifnya murah πŸ˜‚πŸ™ˆ.

Saya kira disana pasti sepi karena ini bukan musim liburan. Ternyata lokasi masih ramai karena ada beberapa rombongan dari sekolah-sekolah. Mulai dari anak-anak TK sampai abege puber yang ketika papasan bau asem hihihi…

Nyampe di loket penjualan tiket saya seneng dong, karena ternyata harga tiket masuknya jauh lebih murah dari wahana edukatif yang pernah kita kunjungi di Malang. Harga bisa dilihat di gambar bawah ya ⬇️

Masuk di gedung oval yang nyambung dengan gedung kotak, kita lewat aquarium yang ikannya besar-besar. Aquariumnya nggak terlalu panjang sih tapi melingkar di atas. Ya karena belum pernah ke Sea World, jadi liat yang gitu aja si Neal udah jejeritan girang. Padahal cuma liat Patin sama Lele doang πŸ˜„.

Tambah heboh lagi pas dia disambut robot Dino yang bisa mangap-mangap.

Neal memang lumayan tertarik sama si Dino. Ceritanya tentang Dinosaurus bisa dibaca di sini ⬇️

https://kimikimya.wordpress.com/2017/08/25/super-t-rex-mencegah-kebakaran-hutan/?share=press-this&nb=1

Di dalam lumayan seru, ada pengenalan anggota tubuh manusia, simulasi tulang rangka, hologram, generator, listrik, medan magnet, gaya, robot, dll. Untuk anak seusia Azky sudah lumayan paham, di setiap spot dia selalu baca instruksi dan keterangan. Kalau si adek cuma ribut kesana-kemari nyoba ini itu sambil teriak-teriak manggil kakaknya πŸ˜„.

Di penghujung ruang kotak, ada alat musik gamelan, pengunjung dipersilahkan mencoba ⬇️

Selanjutnya masuk ke studio planetarium. Bukan planetarium betulan sih, semacam bioskop gitu aja. Ada dua film tentang galaksi dan kroninya dengan durasi sekitar 30 menit. Kita pengunjung pertama yang masuk ya, jadi dengan norak-norak bergembira minta fotoin sama penjaganya πŸ˜‚πŸ€£.

Anak kicik satunya penasaran, ada apakah dibawah proyektor? Setelah diintip ternyata cuma mesin. Misteri terjawab sudah πŸ˜… ⬇️

Penampakan satelit dari luar angkasa ⬇️

Setelah pertunjukan planetarium, Neal pindah ke tempat pembuatan gerabah. Bayangan saya ada yang ngajarinlah minimal (tiba-tiba ingat sama film Ghost-nya Demi MooreπŸ˜‚). Tapi ternyata bentuk yang dibikin benar-benar ‘suka-suka’. Mereka hanya menyediakan bahan baku saja, semacam plastisin tapi coklat. Diremas-remas, dibentuk bulat, dipanjang-panjangin, warna coklat. Kok jadi mbayangin…. Aduh jadi salah fokus, intinya melatih motorik halus anak deh 🀣

Next time kalau kesini lagi kita coba yang melukis gerabah aja deh, penampakannya lebih bagus sepertinya πŸ˜….

Lanjut ke tempat membatik request si kakak. Awalnya ibunya mau sok ngajarin, dia bilang, “Udahlah buk, ibuk ini nggak ngerti maksudku…”. Pas udah jadi ternyata penampakannya seperti Sasirangan, batik khas Kalimantan Selatan. Lima tahun tinggal di pulau Kalimantan ternyata membekas ya kak πŸ˜„.

Kesan dari anak-anak ketika sudah dalam perjalanan balik ke hotel: mau main kesini lagi 😊.

*tamanpintaryogyakarta *wisataedukatifjogja *yogyakarta

Kemanakah Palestina???

Berawal dari anak kecil yang membuka peta dunia, padahal dia ingin mengetahui kepastian dimanakah sejatinya letak Yogyakarta berada?. Dia penasaran karena dalam beberapa hari keluarga kami akan hijrah kesana. Hari ini kakak membawa peta, sepaket dengan buku home reading dari sekolah. Mereka berdua selalu bertukar buku home reading dari sekolah. Kakak membaca buku dari TK, dan si adek melihat-lihat buku home reading dari SD.

“Jogja nggak ada di peta buk, aku nemunya cuma Indonesia”, begitu komentarnya setelah tidak menemukan tulisan Jogja. Itukan atlas dunia ya, jadi… wahai Neal Muhammad, apakah kau kira Jogja terletak di planet antah-berantah nak?? πŸ˜„.

Setelah saya jelaskan bahwa Yogyakarta adalah bagian dari Indonesia, dan untuk mencari tulisan Yogyakarta dibutuhkan peta pulau Jawa yang lebih spesifik, maka topik beralih ke pulau lain. Menurut anak-anak pulau Irian bentuknya mirip dengan kepala dinosaurus. Setiap kali teringat Irian Jaya, yang terlintas dalam benak saya adalah Freeport. Berkisahlah ibu sara tentang betapa banyak kekayaan alam Indonesia DAN siapa yang paling banyak menikmatinya. Kemana emas dari Papua dibawa pergi ibu sara nggak tau pasti. Dongeng tentang freeport malam ini hanya bertujuan untuk mengasah empati dan menumbuhkan semangat agar mereka belajar lebih tekun dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih layak dan bermartabat, itu saja, tidak lebih.

Jari bergeser ke kiri dan tak sengaja saya melihat bendera Israel. Saya punya firasat buruk tentang hal ini. Refleks saya mencetuskan game “Temukan Palestina di peta”. Hasilnya kami tidak menemukan negara Palestina di peta dunia. Sebagai informasi, peta ini adalah bonus dari buku anak-anak tentang atlas. Karena terdapat peringatan keras di bagian depan buku mengenai larangan mengutip, menjiplak dsb, saya tidak bisa menyebutkan sumber pasti. Yang jelas ini adalah buku anak terjemahan yang cetakan aslinya terbit di London tahun 2006.

Mari kita uraikan satu-persatu. Buku anak. Tentang pengetahuan umum. Tahun 2006 telah menghapus negara Palestina dari peta dunia. Saya cek di indeks daftar negara, dan Palestina benar-benar tidak ada. Semasif itukah? Dua tahun yang lalu saya baru sadar bahwa Palestina tidak tercantum di Google maps (mungkin memang saya yang kudet). Tetapi ini buku anak lho, hard cover dengan tampilan bagus digambar oleh ilustrator terkenal, dua belas tahun yang lalu sudah meniadakan Palestina.

Kami bertiga gelisah.

Apakah anak-anak harus diarahkan untuk membuat peta?

Selama ini kita kemana?

Sudahkah hari ini kita mendoakan saudara kita disana?

Samarinda, 12 Februari 2018.

*palestina*

Seatap Sesaat

Kulirik smartphoneku, ada sepuluh panggilan tak terjawab dari mama mertua. Pantas saja nggak bunyi, ternyata mode silent belum berubah sejak rapat pagi tadi, sebaiknya segera kutelepon beliau.

“Yayuuk, kau sibuk kalikah hari ini? Kutelepon berjuta kali tak kau angkat juga”, suara di ujung telepon mengagetkanku sebelum aku sempat memberi salam.

“Eh assalamualaikum, ma, nggih ma, Yayuk tadi rapat”, kujawab cepat-cepat.

“Baahh… perut sebesar itu kau masih ikut rapat pula, kapan kau cuti nak? Mertuamu ini sudah tak sabar mau nimang Situmorang kecil”, jawab mama mertua berapi-api.

“Besok baru mulai cuti mak..”, sebelum kalimatku selesai beliau memotong, “Yuk, sudah kupesankan kau tiket kereta api kesini buat nanti tanggal tiga, kalau si Andre tak bisa antar biar mamak yang jemput kau ke Jakarta, sudah ya mamak lagi goreng ikan”, mertuaku mematikan sambungan telepon. Akupun menghela nafas panjang.

Begitulah mertuaku, tanpa ba-bi-bu Ia langsung bertindak sesuai dengan kehendaknya. Mama mertua tinggal sendirian di Jogja sejak dua tahun lalu sepeninggal papa mertua yang sakit jantung. Bang Andre, suamiku, adalah anak semata wayangnya, yang bekerja di offshore-rig Batam dengan jadwal sebulan sekali pulang ke Jakarta. Sebenarnya, aku ingin melahirkan di Jakarta saja atau di kota kelahiranku Probolinggo, akan tetapi Bang Andre menolak keras keinginanku, “Ahh kau..macam mana pula aku tega kau melahirkan di Jakarta. Sudahlah, mamak nanti yang akan mengurusmu, senang pula hatinya. Probolinggo?! Susahlah nanti aku menemuimu Yuk, harus sambung transport dari Surabaya, tidak ada penerbangan langsung dari Batam ke sana”. Aku sangat mengerti kekhawatiran Bang Andre, apalagi saat aku melahirkan nanti Bang Andre masih berada di rig, namun seminggu bersama mertuaku tanpa Bang Andre rasanya akan sama seperti setahun.

Alhamdulillah waktu yang dinanti tiba, persis beberapa hari sebelum tanggal tiga, bang Andre pulang. Dengan sukacita aku menyambutnya, “Kepulangan Abang Kali ini bikin aku berbunga-bunga lho, nanti malam kita makan ditempat biasa ya Bang, aku mau membicarakan sesuatu yang serius”, ujarku saat mencium tangannya. “Memangnya mau ngomong apa kau, Yuk, sampai harus jauh-jauh kesana?” Bang Andre penasaran, dan hanya kujawab dengan senyum. Setelah makan menu favorit kami, aku mulai mengutarakan keinginan tentang tempat melahirkan dan beberapa ide lainnya, “Yayuk takut Bang, kalau menunggu lahiran sama mama, nanti Yayuk malah stress denger mama bicara keras begitu”, akhirnya kuutarakan juga kegundahanku pada Bang Andre. “Hmmm… rupanya itu yang kau takutkan istriku sayang, tenang Yuk, mamak itu tak segarang yang kau pikirkan, meski agak hiperbola seperti yang kau bilang, hati mamak baik, mamak selalu bilang pada Abang bahwa kaulah menantu idamannya, santai saja, ada tips dari abang kalau kau dengar mamak bicara keras, anggap saja mamak sedang bernyayi seriosa, selesai, jangan kau bikin stres ya”, Bang Andre kembali meyakinkan sambil memegang erat tanganku. “Abang ini, Abang yakin Yayuk bisa? dari mana Abang tahu kalau Yayuk ini menantu idaman mama? Abang nih bikin geer aja,” ucapku. Dijalan pulang, Bang Andre terus meyakinkanku bahwa mama mertua suka dan sayang padaku berdasarkan cerita mama saat meneleponnya, ia juga menceritakan bahagianya mama bila aku meneleponya terlebih dahulu.

Hari yang ditunggu tiba, mama mertua tersenyum sumringah menyambut kami di pintu rumah. belum sempat kucium tangannya, mertuaku langsung bicara “Yuk, kau ini hamil sembilan bulan tapi masih kurus saja badanmu itu. Tak kau beri makannya itu calon cucuku? Janganlah dulu diet, yang penting badanmu sehat”. Huft, salam pembuka yang tak terduga, terbayanglah bagaimana jadinya hidupku sepuluh minggu ke depan. “Kau pasti lelah, sekarang tidur saja dulu besok pagi baru kau kontrol kandungan di RS Sardjito”, setengah memaksa mama mertua menarikku ke dalam kamar. Rupanya ia sudah menyiapkan semuanya mulai dari tempat tidur, alat mandi, dan perlengkapan bayi lainnya tertata rapi di dalam kamar. Bang Andre hanya melempar senyum yang menyiratkan kalimat “Benar kan kataku? Mamak sayang sama kau.”

HPL masih sepuluh hari lagi menurut hasil perhitungan dokter dan USG, tetapi aku dengar dari teman-teman bisa maju atau mundur. Beruntung sekali aku memiliki teman-teman yang sangat perhatian kepadaku, mungkin juga mereka merasa kasihan karena Bang Andre jauh sementara ini adalah kehamilanku yang pertama. “Aarrgghhh..!” Lamunanku buyar dan dengan spontan aku berteriak kencang, membuat Mama berlari menghampiriku dan dengan panik bertanya. Sambil meringis dan memegangi perut bawah kujelaskan bahwa aku merasakan mulas yang lebih kuat dari biasanya dan kemaluanku juga terasa nyeri. Tak kusangka mama langsung berlari ke rumah sebelah untuk meminta tolong diantarkan ke rumah sakit. “Bikin jantungan Mamak saja kau, Yayuk, ternyata hanya kontraksi palsu karena kau stress, bahh… cemana kau bisa stres seperti itu?!”, dengan suara kerasnya mama protes selama perjalanan pulang dari rumah sakit. Aku hanya terdiam karena merasa tidak enak dengan pak Anwar, tetangga sebelah yang sudah bersusah payah mengantarkan kami.

Kuceritakan pada bang Andre perihal kontraksi palsu yang kemarin kualami melalui telepon. “Tenang sajalah, Yuk, tak perlu kau stress, mamak itu wanita perkasa, dia bisa menemani kau lahiran dan pak Anwar juga sudah bersedia nganterin kau lahiran ke rumah sakit”, ujar bang Andre saat meneleponku tadi malam, tapi itu tak membuatku menjadi tenang, justru aku ingin menangis dan berpikir pulang ke kampung halamanku, melahirkan disana bersama ibuku, meskipun jelas itu tak mungkin. Hingga di suatu pagi H-3 HPL, “Bah macam mana kau ini, baru aku merasakan teh asin begini, kenapa kau ini, Yuk, apa yang kau pikirkan, tak perlu lah kau khawatir tentang lahiran, percaya sajalah sama mamak kau ini,” ujar mamak dengan nada kaget saat minum teh bikinanku yang rasanya asin karena ternyata bukan gula yg aku tambahkan melainkan garam. Menjelang malam, perut bawahku terasa sakit, aku coba menahannya karena aku khawatir ini kontraksi palsu, tapi semakin lama rasa sakitnya semakin sering, ah rasanya aku sudah nggak tahan, “Maaa..mamaa..” teriakku membangunkan mama yang tidur di sebelahku. Sontak mama terbangun dan kaget melihatku meringis kesakitan dan mendapati bagian belakangku basah oleh air yg sepertinya air ketuban, “Yayuk! Situmorang mau keluar! Kau tahan dulu sebentar yak, mamakmu yang gesit ini mau cari bantuan!” mama berteriak sambil berlari ke rumah pak Anwar, tetangga sebelah, minta diantarkan ke rumah sakit. Sekuat tenaga, aku berjalan ke teras rumah menyusul mama dan tak lama terdengar suara mobil menyala, aku berjalan bergegas. Namun kenapa mobil itu malah semakin menjauh dariku, “Maa!! Maamaa!!”, teriakku, “Aku masih disini maa!!”, aku berteriak dengan air mata berlinang sambil menahan sakit, tapi mobil sudah terlanjur meluncur.

Sepuluh menit kemudian mama kembali dan segera membantuku masuk mobil, baru saja aku duduk, mobil langsung tancap gas. “Pak Anwar!! Mama ketinggalan di depan pagar pak!!”, karena ikut panik pak Anwar gantian meninggalkan mama. Akhirnya kami kembali menjemput mama yang marah-marah karena tertinggal. Di dalam mobil perutku semakin sering kontraksi, “Ma, ini bayinya sudah minta keluar sekarang, sakit pinggang Yayuk, ma,” akupun berteriak kesakitan di dalam mobil. “Alamak… Yayuk tak bisakah kau tahan? Mertuamu ini tak ada tampang jadi bidan, tapi demi cucuku ini jadi presidenpun mamak mau! Sudah sekarang kau terlentang!”, akhirnya mamapun mulai memberi aba-aba untuk prosesi lahiranku di dalam mobil.

“Situmorangku….” Beberapa menit kemudian terdengar tangisan bayi, dan haru suara mama yang terisak-isak bahagia, “Yayuk, terimakasih sudah kuat berjuang untuk Situmorangku, nak, mamak sayang sekali sama kau. Hey kau bayi kecil, baru muncul ke dunia kau sudah bikin kehebohan rupanya, yang pintar ya nanti kau jaga mamakmu yang hebat ini, horas nak, horas!!” mama berorasi di dalam mobil hingga aku tersadar bahwa apa yang dikatakan bang Andre benar, mama memang tulus menyayangiku.

TAMAT

#writingproject #menuliskeroyokan #rumbelmenulisIIPJakarta

Photo credit: Instagram

We are what we READ

Tantangan level 5 bunda sayang adalah tentang membudayakan literasi sejak dini. Well, saya menganggapnya sebagai pengingat pribadi, karena akhir2 ini memang sering terdistraksi dengan kemunculan film korea di televisi *bhay!! πŸ˜‚.

Buku memang teman saya sejak kecil. Bahkan ada beberapa buku yang memiliki deep impact dalam pola pikir saya secara keseluruhan. Saya terbiasa dengan buku sejak kecil karena bagi saya, berimajinasi adalah kegiatan rekreatif yang menyenangkan. Faktor pendukung saat itu mungkin juga karena keterbatasan multimedia, disamping intensitas liburan yang terbilang langka karena tergolong kegiatan mewah. Tidak ada kendala khusus bagi saya dalam membiasakan membaca.

Namun untuk membiasakannya pada anak-anak, beda lagi cerita. Tampilan kartun yang semakin meriah, game di tablet yang beraneka rupa, membuat buku terlihat seperti lembaran yang membosankan. Pada jaman jahiliyah dulu, demi mengejar biar anak saya bisa speak english fluently, saya beri mereka tontonan semacam baby tv dan disney channel setiap hari. Kosa kata bahasa Inggris banyak sih, tetapi anak kecanduan tivi, ibu sara menyesal meratapi diri *lebaymodeON 😭. Dan percayalah, menurut pengalaman pribadi mengatasi kecanduan televisi jauh lebih susah daripada mengajarkan anak kosakata baru dalam bahasa Inggris ya bu ibuu…

Sejak itu saya sangat ketat dalam jam multimedia. Saya berburu buku anak dalam setiap bookfair, dan seringkali menawarkan opsi membaca jika anak-anak mulai terlihat bosan di rumah. Memberi mereka buku di momen-momen tertentu, dan di beberapa sesi ulang tahun saya mengganti goodie bag yang biasa berisi snack dengan buku-buku anak untuk dibagikan pada teman-temannya.

Mensugesti bahwa buku adalah hal menyenangkan memang butuh perjuangan panjang. Beruntung, di sekolah ada program home reading, meskipun untuk si kakak program itu berhenti hanya di kelas tiga. Untuk Neal yang masih TK, inshaAllah program home reading berjalan sampai lulus sekolah. Jadi nak mari kita rimbunkan pohon literasi kita serimbun-rimbunnya ya, karena kepribadian kita terbentuk dari apa yang kita baca.

#aliran rasa

#gamelevel5

#kuliahbundasayang

#institutibuprofesional