Teman atau kenalan?

Hubungan pertemanan, sedikit banyak mirip dengan hubungan cinta. Sama-sama dipengaruhi oleh takdir, kecocokan, pendekatan, bahkan terkadang diantaranya terdapat pertengkaran. 

Menurut sebuah penelitian (yang lagi2 lupa saya baca dimana πŸ˜‚), meskipun selama masa anak-anak sampai menjelang dewasa seseorang memiliki teman yang banyak, namun seiring bertambahnya usia jumlah teman yang “benar2 teman” tidak akan lebih banyak dari jumlah jari tangan. Ada banyak orang yang lalu lalang dalam kehidupan kita namun hanya beberapa yang tetap bertahan. 
Dalam masyarakat modern seperti sekarang, ada banyak label teman. Ada teman pengajian, teman sekolah, teman kuliah, teman komunitas, teman kantor, teman main, teman nongkrong, teman chatting, teman curhat, teman hidup *lhooooo (yang masih jomblo dilarang baper πŸ˜…)
Sepertinya seru ya temannya banyak… Namun kemudian ada sebuah hadits yang sampai di telinga :

” seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Maka timbulah kegalauan didalam jiwa ketika dalam pengajian kemarin Umi Nafil juga menegaskan bahwa seseorang bertanggung jawab atas agama temannya. Bukankah menanggung dosa-dosa sendiri saja sudah sangat memberatkan, apakah masih bersedia bertanggungjawab atas agama seseorang yang kita anggap teman?
Hal ini mengingatkan saya pada curhatan seseorang tentang keberadaan beberapa perkumpulan akhwat yang menurut beliau terkesan eksklusif dan tidak membumi. Jadi ceritanya beliau ini tiba-tiba merasa nista dan berlumur dosa jika berdekatan dengan perkumpulan tersebut yang menurut beliau kurang ramah dan terkesan menjaga jarak. Sebenarnya ada dua kemungkinan dari kejadian itu. Kemungkinan pertama kita harus berprasangka baik: mungkin mereka sedang menjaga diri agar tidak dihisab akan keberadaan kita (merujuk pada pesan ummi: yang ada di depan kita adalah amanah bagi kita) dan mereka belum siap berdakwah; atau kemungkinan kedua beliau yang merasa nista ini lagi baper (iya, ini kamu miss, salam damai sejahtera πŸ˜…πŸ‘»). 
Tiba2 muncul percakapan imajiner ketika nanti kita dihisab dan Allah menanyakan pada kita perihal teman kita yang bermaksiat dan kita lalai tidak menegurnya. Bisa nggak sih kita jawab, “anu ya Allah, itu cuma kenalan aja bukan teman”. Bisa nggak yaaa??? πŸ˜†
Untuk menghindari kebingungan yang berkelanjutan, berikut adalah πŸ‘­Syarat Mencari Teman yang Baik πŸ‘­, yang disampaikan oleh Ummi Nafil dalam pengajian mingguan di Islamic centre pada 14 dan 21 Maret 2017:

1. Orang yang beraqidah lurus. Ini merupakan syarat mutlak dalam memilih teman.

2. Berpola pikir yang lurus dan benar. Menjauhi teman yang cenderung berlebih-lebihan atau hobi mendramatisasi suatu kejadian.

3. Merujuk pada QS.18:28, hendaknya duduk bersama dengan orang-orang yang selalu mengingat Allah.

4. Berakhlak terpuji dan bertutur kata yang baik. Mukmin yang sempurna imannya adalah yang paling sempurna akhlaknya.

5. Teman yang suka menasehati dalam kebaikan. Tidak sempurna iman kalian jika kalian tidak mencintai teman seperti mencintai diri sendiri.

6. Teman yang zuhud terhadap dunia, tunduk dan tindak berambisi terhadap hal-hal yang bersifat keduniawian.

7. Teman yang banyak ilmu dan dapat berbagi ilmu dengannya.

8. Memilih teman yang berpakaian islami, bersih dan rapi. Karena kecenderungan yang tampak menunjukkan kecondongan hati.

9. Yang selalu menjaga kewibawaan dan kehormatan saudaranya, menjaga aib saudaranya.

10. Memilih teman yang tidak banyak bergurau dan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. (Banyak bergurau disini maksudnya yang selalu bercanda tanpa tau situasi dan kondisi, tidak tau adab)
Dari kriteria tersebut di atas, untuk menghindari sikap ujub dan tinggi hati, saya sarankan sebelum menilai satu persatu teman yang ada di sekitar kita, mari kita melihat diri kita sendiri terlebih dahulu. Di mata orang lain, kita ingin dikenang sebagai teman yang seperti apa? Sebelum kita mencari teman yang baik, sudahkah kita menjadi teman yang baik?
Seperti yang seringkali dikatakan seseorang yang dengan lantang saya sebut sahabat di seberang pulau sana, menulis adalah mengingatkan diri sendiri. 
Semoga bermanfaat.
Sara Rosalinda 

Iklan

Terompah istimewa

Once upon a time, hiduplah seorang alien bertampang jutek yang terdampar di negeri Syahdutralala. Karena tampangnya yang jutek, orang males berteman dengan dia. 

“Ih sepertinya dia galak, males deh negur duluan”, begitulah pikiran orang-orang. 
Hari berganti bulan, dengan kombinasi tampang jutek dan tampilan semi preman, alien tak punya teman. Tuhan yang mengamati dari atas sana mulai merasa iba. Sepertinya tanpa bantuan tidak akan ada perubahan, jadi percuma saja dia kudamparkan ke negeri baru…padahal ada skema indah yang kuselipkan disitu. Rencana darurat mulai disusun untuk si alien jutek. Bim salabim abrakadabra, terompah milik alien jutek tertukar dengan terompah kepala suku. Terompah mereka berbentuk sama, hanya berbeda ukuran saja. Kaki kepala suku yang berukuran sehat tidak muat kedalam terompah alien yang lebih mungil. Negeri Syahdutralala gonjang ganjing karena kepala suku kehilangan terompah kesayangannya. Usut punya usut, itu adalah terompah istimewa, hadiah dari sang puteri mahkota. Kepala sukupun mengadakan sayembara. Barangsiapa yang bisa mengembalikan terompah miliknya akan diberi hadiah sebuah istana. Berita sayembara cepat menyebar ke pelosok negeri. Semua orang berlomba-lomba mencari terompah yang dianggap bawa hoki. Sang alien pada akhirnya mendengar kabar itu. Dia baru sadar kalau ternyata terompahnya kebesaran. Dengan gugup dia datang ke istana untuk menemui kepala suku. Alien jutek semakin gemetar melihat tatapan para ajudan yang mengelilingi singgasana kepala suku. 
“Wahai orang asing, perkenalkan dirimu!”, ucap kepala suku. 

“Aku adalah alien dari planet antah berantah, dan sepertinya terompah yang mulia tertukar dengan terompah milik saya”, dengan terbata-bata alien mencoba menjelaskan maksud kedatangannya. 

“Oh, jadi ini ulahmu? Kenapa tampangmu jutek sekali? Kau pasti orang jahat, dan Karena kau telah menghabiskan banyak waktuku, aku akan mengusirmu pergi dari negeri ini”, kepala suku menghardik dengan gusar. 

“Yang mulia, ini ketidaksengajaan, tolong jangan usir aku dari sini, hanya saja anda belum tau, meskipun tampangku seperti ini, aku memiliki hati yang lembut…”.

“Apa untungnya hati yang lembut untukku?”, tanya kepala suku.

“Hati yang lembut akan menuntun kita menemukan kebenaran sejati, dan selain itu aku pandai menyanyi, jika yang mulia mengijinkanku tinggal disini, aku akan menyanyi untukmu setiap hari”, ujar alien.
Sejak itu alien menyanyi setiap hari. Dia berteman dengan kepala suku dan penghuni istana lainnya. Mereka selalu tertawa gembira dan bermain bersama.

Kimya dan kebab

Siapa doyan kebab? 
Pertamakali kebab merajalela di Indonesia seingat saya jaman gerobak kebab turki baba rafi mulai buka cabang dimana-mana. Saya ingat dulu di Jember, sebelum cafe mulai menjamur, sebelum mall berdiri, sebelum ada restoran cepat saji, kebab baba rafi jadi makanan hits di masanya. Yang ngantri di depan gerobak serasa ngantri sembako, puluhan orang dapat nomor antrian saking banyaknya πŸ˜‚. Fenomenal. 
Rupanya makanan ini juga berimbas pada saya yang dulu sebelum ngaku2 jadi artis koreyah sempat ngaku2 jadi princess turki 😝. Lidah saya keriting karena nemu makanan khas kampung halaman. Dengan modus hamil dan lagi ngidam, hampir tiap hari selama 4 bulan sebelum pindah ke Malang, kebab jadi salah satu menu harian saya. Mungkin karena itulah azky jadi doyan kebab, familiar karena mulai di dalam perut ikut merasakan. Atau mungkin juga dia doyan kebab karena akte kelahiran menyebutnya Kimya? Nama bekennya azky yang sama dengan anak angkat Jalaludin Rumi? Atau jangan2 kita memang beneran keturunan Turki? πŸ˜πŸ˜‚πŸ‘» *tariknafasdalamdalam
Kemarin sore, pulang sekolah dia bilang di sekolah nggak jajan, karena duitnya mau buat beli kebab. Sebenarnya kita mau beli kebab di Geprek Ekspress, tapi kebabnya lagi kosong. Rupanya kali ini keinginan untuk membeli Geprek Ekspress hanyalah modus operandi dari Allah agar kita menoleh ke sebelah gerai dan menemukan gerobak kebab baru yang meskipun menggunakan “kertas bungkus sego campur” tapi rasanya enak. Dan inilah tarian makan kebab yang dipersembahkan oleh duo krucil: 

​​
Jadi, siapa lagi yang doyan kebab?

Rumah dalam lipatan cheeseburgerΒ 

Beberapa waktu yang lalu ketika ngobrol dengan seorang sahabat, saya baru menyadari bahwa jauh sebelum saya hidup berpindah2 seperti sekarang, I’ve been nomad in my early age.  
Pindah TK sampai 3 kali, SD 2 kali, dan itupun belum termasuk tempat tinggal. Karena tinggal terpisah dari orang tua, saya tinggal berpindah2 tempat diantara rumah nenek, tante dan budhe sesuka hati saya. Saya menyebutnya segitiga bermuda. 
Dalam rentang 12 tahun (terhitung mulai SD-SMA) tidak terhitung berapa kali saya melompat2 antara tiga tempat itu. Bosan di tempat nenek, pindah ke tempat tante, bosan lagi pindah ke tempat budhe, dan begitu seterusnya. Sepanjang ingatan, waktu itu sih saya fine-fine saja meskipun tumbuh tanpa kejelasan konsep “rumah” dalam hati saya. Tapi di umur yang sudah dibilang uzur seperti ini (meskipun saya kepedean sering ngaku awet muda πŸ‘») jika memikirkan konsep itu bisa membuat saya mewek jaya. Rasanya seperti melihat film di masa lalu dengan sara kecil sebagai pemeran utamanya yang galau kesana kemari mencoba mencari “rumah”. *pukpukme 
Lalu apa hubungannya dengan Mc.D? Jika orang lain merasa familiar dengan masakan ibu yang katanya seringkali membangkitkan ingatan, hal itu yang terjadi pada saya ketika melahap menu yang tersedia di mekdi. Lidah saya sangat familiar dengan menu2 jadul yang bahkan rasanya tetap sama setelah belasan tahun lamanya. Bagaimana tidak, segitiga bermuda yang dulu saya tinggali berdekatan dengan mekdi. Kebetulan dulu saya adalah penggemar cheeseburger disana. Jadi kalau sedih, seringkali disogok burger mekdi sama the one and only brotha yg waktu itu sok2an jadi gantinya mama πŸ˜… (I love you masbro). Ketika nilai NEM tidak sesuai ekspektasi, disogok mekdi hilang gundah gulana. Traktiran ulangtahun teman juga seringkali di mekdi. Bersama gank jaman smp juga waktu sekolah masih masuk siang, seringkali sarapannya bareng2 ke mekdi (ajegilee kita dulu uang sakunya heboh brarti yaaa πŸ˜… colek dewi, fitri,hanum). Dan salah satu faktor yang paling menggoda iman adalah lokasi Gramedia yang pas bersebrangan dengan Mc.donald sarinah Malang. 

Buku dan cheeseburger yang dengan kompak memanggil2 saya dengan bisikan mesra, “sara, ayo sini pulang ke rumah”. 
Above all, menuliskan hal-hal seperti ini bukan berarti saya belum bisa berdamai dengan masa lalu saya. Hanya saja tiap keping kenangan yang membentuk jati diri kita saya rasa patut untuk diabadikan. Tiba2 teringat sebaris kata2 bijak yang sempat menghampiri saya yg saya lupa entah melalui media apa: 
“HIDUPLAH, karena mengenang hanya untuk orang-orang tua”.