9 summers 10 autumns (book review)

Judul: 9 summers 10 autumns

Penulis: Iwan Setiawan

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 221

Harga: Rp.10.000 (obral GPU)

Cetakan: ke-12, Maret 2013

Sebenarnya novel ini sudah lumayan lama, meskipun berkali-kali tampak di bagian depan toko buku tapi entah mengapa kok hati tidak tergerak untuk membeli. Namun saya percaya bahwa sebuah kisahlah yang menghampiri kita, bukan sebaliknya. Berawal dari sebuah bookfair di Banjarmasin, saya membelinya karena murah. Tidak dinyana, ada banyak rasa yang pernah saya kecap yang kemudian terurai dalam kalimat nyata di buku ini. 

Bercerita tentang perjuangan seorang anak dari keluarga yang sangat sederhana, yang mampu menjadi orang sukses di New York. Cerita didalamnya menegaskan bahwa cinta, kasih sayang, dan kenangan indah semasa kecil dari keluarga akan menyelamatkan kehidupan kita. Berdasarkan pada kisah nyata, penulis mampu mengemas kisah masa kecilnya dengan indah dan penuh makna. Lahir di sebuah kota kecil di Jawa Timur (kota Batu) sebagai anak sopir angkutan umum, namun berkat ketekunan dan pendidikan, penulis dan saudara2nya pada akhirnya mampu keluar dari sarang kecil mereka. Karirnya sebagai direktur di Global Nielsen Consumer Research di Amerika seakan menebus masa-masa dimana keterbatasan ekonomi menjadi kendala yang paling berarti dimasa kecilnya. 

Alur cerita flashback membawa pembaca berpindah-pindah antara kota Batu yang tenang dan New York dengan segala kompleksitasnya. Namun demikian ada kesan yang mencoba ditampakkan oleh penulis bahwa ditengah keriuhan kota New York, kenangan2 dari masa kecilnya seringkali datang menyapa. Di New York city, dia berani menelusuri masa kecilnya kembali.

Saya melihat ada yang unik dari novel ini. Secara keseluruhan tulisan dalam buku ini adalah monolog. Kisah yang dituliskan berupa pemaparan. Namun yang menarik, penulis menghadirkan sosok misterius anak kecil berseragam putih merah yang seringkali tiba2 muncul agar dialog imajiner yang dia lakukan dengan dirinya sendiri terasa lebih nyata. Pada akhirnya kita akan memahami bahwa pembicaraan-pembicaraan yang intens antara mereka adalah proses yang dilalui penulis agar bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Penulis berhasil mendeskripsikan perasaan-perasaan samar kedalam kalimat-kalimat sederhana yang mudah dipahami. 

” Menulis kembali kenangan masa lalu butuh sebuah keberanian. Banyak lembar ingatan yang tak berani aku sentuh, karena melankoli yang muncul bisa meledak dan tak ada kekuatan diriku untuk meredamnya”.

(9 summers 10 autumns, hal.23)

Sebuah tulisan self therapy yang sangat menginspirasi. Setiap orang mempunyai kisah hidupnya sendiri. Namun untuk menuliskannya kedalam sebuah buku, apalagi kisah-kisah pilu dan menyedihkan yang telah dilalui, tidak semua orang mampu. Jadi, bagaimana dengan kisah hidupmu? Beranikah kamu?

-Sara Rosalinda-
#bookreview #9summers10autumns 

Iklan