Seatap Sesaat

Kulirik smartphoneku, ada sepuluh panggilan tak terjawab dari mama mertua. Pantas saja nggak bunyi, ternyata mode silent belum berubah sejak rapat pagi tadi, sebaiknya segera kutelepon beliau.

“Yayuuk, kau sibuk kalikah hari ini? Kutelepon berjuta kali tak kau angkat juga”, suara di ujung telepon mengagetkanku sebelum aku sempat memberi salam.

“Eh assalamualaikum, ma, nggih ma, Yayuk tadi rapat”, kujawab cepat-cepat.

“Baahh… perut sebesar itu kau masih ikut rapat pula, kapan kau cuti nak? Mertuamu ini sudah tak sabar mau nimang Situmorang kecil”, jawab mama mertua berapi-api.

“Besok baru mulai cuti mak..”, sebelum kalimatku selesai beliau memotong, “Yuk, sudah kupesankan kau tiket kereta api kesini buat nanti tanggal tiga, kalau si Andre tak bisa antar biar mamak yang jemput kau ke Jakarta, sudah ya mamak lagi goreng ikan”, mertuaku mematikan sambungan telepon. Akupun menghela nafas panjang.

Begitulah mertuaku, tanpa ba-bi-bu Ia langsung bertindak sesuai dengan kehendaknya. Mama mertua tinggal sendirian di Jogja sejak dua tahun lalu sepeninggal papa mertua yang sakit jantung. Bang Andre, suamiku, adalah anak semata wayangnya, yang bekerja di offshore-rig Batam dengan jadwal sebulan sekali pulang ke Jakarta. Sebenarnya, aku ingin melahirkan di Jakarta saja atau di kota kelahiranku Probolinggo, akan tetapi Bang Andre menolak keras keinginanku, “Ahh kau..macam mana pula aku tega kau melahirkan di Jakarta. Sudahlah, mamak nanti yang akan mengurusmu, senang pula hatinya. Probolinggo?! Susahlah nanti aku menemuimu Yuk, harus sambung transport dari Surabaya, tidak ada penerbangan langsung dari Batam ke sana”. Aku sangat mengerti kekhawatiran Bang Andre, apalagi saat aku melahirkan nanti Bang Andre masih berada di rig, namun seminggu bersama mertuaku tanpa Bang Andre rasanya akan sama seperti setahun.

Alhamdulillah waktu yang dinanti tiba, persis beberapa hari sebelum tanggal tiga, bang Andre pulang. Dengan sukacita aku menyambutnya, “Kepulangan Abang Kali ini bikin aku berbunga-bunga lho, nanti malam kita makan ditempat biasa ya Bang, aku mau membicarakan sesuatu yang serius”, ujarku saat mencium tangannya. “Memangnya mau ngomong apa kau, Yuk, sampai harus jauh-jauh kesana?” Bang Andre penasaran, dan hanya kujawab dengan senyum. Setelah makan menu favorit kami, aku mulai mengutarakan keinginan tentang tempat melahirkan dan beberapa ide lainnya, “Yayuk takut Bang, kalau menunggu lahiran sama mama, nanti Yayuk malah stress denger mama bicara keras begitu”, akhirnya kuutarakan juga kegundahanku pada Bang Andre. “Hmmm… rupanya itu yang kau takutkan istriku sayang, tenang Yuk, mamak itu tak segarang yang kau pikirkan, meski agak hiperbola seperti yang kau bilang, hati mamak baik, mamak selalu bilang pada Abang bahwa kaulah menantu idamannya, santai saja, ada tips dari abang kalau kau dengar mamak bicara keras, anggap saja mamak sedang bernyayi seriosa, selesai, jangan kau bikin stres ya”, Bang Andre kembali meyakinkan sambil memegang erat tanganku. “Abang ini, Abang yakin Yayuk bisa? dari mana Abang tahu kalau Yayuk ini menantu idaman mama? Abang nih bikin geer aja,” ucapku. Dijalan pulang, Bang Andre terus meyakinkanku bahwa mama mertua suka dan sayang padaku berdasarkan cerita mama saat meneleponnya, ia juga menceritakan bahagianya mama bila aku meneleponya terlebih dahulu.

Hari yang ditunggu tiba, mama mertua tersenyum sumringah menyambut kami di pintu rumah. belum sempat kucium tangannya, mertuaku langsung bicara “Yuk, kau ini hamil sembilan bulan tapi masih kurus saja badanmu itu. Tak kau beri makannya itu calon cucuku? Janganlah dulu diet, yang penting badanmu sehat”. Huft, salam pembuka yang tak terduga, terbayanglah bagaimana jadinya hidupku sepuluh minggu ke depan. “Kau pasti lelah, sekarang tidur saja dulu besok pagi baru kau kontrol kandungan di RS Sardjito”, setengah memaksa mama mertua menarikku ke dalam kamar. Rupanya ia sudah menyiapkan semuanya mulai dari tempat tidur, alat mandi, dan perlengkapan bayi lainnya tertata rapi di dalam kamar. Bang Andre hanya melempar senyum yang menyiratkan kalimat “Benar kan kataku? Mamak sayang sama kau.”

HPL masih sepuluh hari lagi menurut hasil perhitungan dokter dan USG, tetapi aku dengar dari teman-teman bisa maju atau mundur. Beruntung sekali aku memiliki teman-teman yang sangat perhatian kepadaku, mungkin juga mereka merasa kasihan karena Bang Andre jauh sementara ini adalah kehamilanku yang pertama. “Aarrgghhh..!” Lamunanku buyar dan dengan spontan aku berteriak kencang, membuat Mama berlari menghampiriku dan dengan panik bertanya. Sambil meringis dan memegangi perut bawah kujelaskan bahwa aku merasakan mulas yang lebih kuat dari biasanya dan kemaluanku juga terasa nyeri. Tak kusangka mama langsung berlari ke rumah sebelah untuk meminta tolong diantarkan ke rumah sakit. “Bikin jantungan Mamak saja kau, Yayuk, ternyata hanya kontraksi palsu karena kau stress, bahh… cemana kau bisa stres seperti itu?!”, dengan suara kerasnya mama protes selama perjalanan pulang dari rumah sakit. Aku hanya terdiam karena merasa tidak enak dengan pak Anwar, tetangga sebelah yang sudah bersusah payah mengantarkan kami.

Kuceritakan pada bang Andre perihal kontraksi palsu yang kemarin kualami melalui telepon. “Tenang sajalah, Yuk, tak perlu kau stress, mamak itu wanita perkasa, dia bisa menemani kau lahiran dan pak Anwar juga sudah bersedia nganterin kau lahiran ke rumah sakit”, ujar bang Andre saat meneleponku tadi malam, tapi itu tak membuatku menjadi tenang, justru aku ingin menangis dan berpikir pulang ke kampung halamanku, melahirkan disana bersama ibuku, meskipun jelas itu tak mungkin. Hingga di suatu pagi H-3 HPL, “Bah macam mana kau ini, baru aku merasakan teh asin begini, kenapa kau ini, Yuk, apa yang kau pikirkan, tak perlu lah kau khawatir tentang lahiran, percaya sajalah sama mamak kau ini,” ujar mamak dengan nada kaget saat minum teh bikinanku yang rasanya asin karena ternyata bukan gula yg aku tambahkan melainkan garam. Menjelang malam, perut bawahku terasa sakit, aku coba menahannya karena aku khawatir ini kontraksi palsu, tapi semakin lama rasa sakitnya semakin sering, ah rasanya aku sudah nggak tahan, “Maaa..mamaa..” teriakku membangunkan mama yang tidur di sebelahku. Sontak mama terbangun dan kaget melihatku meringis kesakitan dan mendapati bagian belakangku basah oleh air yg sepertinya air ketuban, “Yayuk! Situmorang mau keluar! Kau tahan dulu sebentar yak, mamakmu yang gesit ini mau cari bantuan!” mama berteriak sambil berlari ke rumah pak Anwar, tetangga sebelah, minta diantarkan ke rumah sakit. Sekuat tenaga, aku berjalan ke teras rumah menyusul mama dan tak lama terdengar suara mobil menyala, aku berjalan bergegas. Namun kenapa mobil itu malah semakin menjauh dariku, “Maa!! Maamaa!!”, teriakku, “Aku masih disini maa!!”, aku berteriak dengan air mata berlinang sambil menahan sakit, tapi mobil sudah terlanjur meluncur.

Sepuluh menit kemudian mama kembali dan segera membantuku masuk mobil, baru saja aku duduk, mobil langsung tancap gas. “Pak Anwar!! Mama ketinggalan di depan pagar pak!!”, karena ikut panik pak Anwar gantian meninggalkan mama. Akhirnya kami kembali menjemput mama yang marah-marah karena tertinggal. Di dalam mobil perutku semakin sering kontraksi, “Ma, ini bayinya sudah minta keluar sekarang, sakit pinggang Yayuk, ma,” akupun berteriak kesakitan di dalam mobil. “Alamak… Yayuk tak bisakah kau tahan? Mertuamu ini tak ada tampang jadi bidan, tapi demi cucuku ini jadi presidenpun mamak mau! Sudah sekarang kau terlentang!”, akhirnya mamapun mulai memberi aba-aba untuk prosesi lahiranku di dalam mobil.

“Situmorangku….” Beberapa menit kemudian terdengar tangisan bayi, dan haru suara mama yang terisak-isak bahagia, “Yayuk, terimakasih sudah kuat berjuang untuk Situmorangku, nak, mamak sayang sekali sama kau. Hey kau bayi kecil, baru muncul ke dunia kau sudah bikin kehebohan rupanya, yang pintar ya nanti kau jaga mamakmu yang hebat ini, horas nak, horas!!” mama berorasi di dalam mobil hingga aku tersadar bahwa apa yang dikatakan bang Andre benar, mama memang tulus menyayangiku.

TAMAT

#writingproject #menuliskeroyokan #rumbelmenulisIIPJakarta

Photo credit: Instagram

Iklan

We are what we READ

Tantangan level 5 bunda sayang adalah tentang membudayakan literasi sejak dini. Well, saya menganggapnya sebagai pengingat pribadi, karena akhir2 ini memang sering terdistraksi dengan kemunculan film korea di televisi *bhay!! 😂.

Buku memang teman saya sejak kecil. Bahkan ada beberapa buku yang memiliki deep impact dalam pola pikir saya secara keseluruhan. Saya terbiasa dengan buku sejak kecil karena bagi saya, berimajinasi adalah kegiatan rekreatif yang menyenangkan. Faktor pendukung saat itu mungkin juga karena keterbatasan multimedia, disamping intensitas liburan yang terbilang langka karena tergolong kegiatan mewah. Tidak ada kendala khusus bagi saya dalam membiasakan membaca.

Namun untuk membiasakannya pada anak-anak, beda lagi cerita. Tampilan kartun yang semakin meriah, game di tablet yang beraneka rupa, membuat buku terlihat seperti lembaran yang membosankan. Pada jaman jahiliyah dulu, demi mengejar biar anak saya bisa speak english fluently, saya beri mereka tontonan semacam baby tv dan disney channel setiap hari. Kosa kata bahasa Inggris banyak sih, tetapi anak kecanduan tivi, ibu sara menyesal meratapi diri *lebaymodeON 😭. Dan percayalah, menurut pengalaman pribadi mengatasi kecanduan televisi jauh lebih susah daripada mengajarkan anak kosakata baru dalam bahasa Inggris ya bu ibuu…

Sejak itu saya sangat ketat dalam jam multimedia. Saya berburu buku anak dalam setiap bookfair, dan seringkali menawarkan opsi membaca jika anak-anak mulai terlihat bosan di rumah. Memberi mereka buku di momen-momen tertentu, dan di beberapa sesi ulang tahun saya mengganti goodie bag yang biasa berisi snack dengan buku-buku anak untuk dibagikan pada teman-temannya.

Mensugesti bahwa buku adalah hal menyenangkan memang butuh perjuangan panjang. Beruntung, di sekolah ada program home reading, meskipun untuk si kakak program itu berhenti hanya di kelas tiga. Untuk Neal yang masih TK, inshaAllah program home reading berjalan sampai lulus sekolah. Jadi nak mari kita rimbunkan pohon literasi kita serimbun-rimbunnya ya, karena kepribadian kita terbentuk dari apa yang kita baca.

#aliran rasa

#gamelevel5

#kuliahbundasayang

#institutibuprofesional