Pooh Dalam Dunia yang Renta

“Kita hidup di zaman ketika orang yang bersikap lembut dianggap lemah, sedangkan orang yang kasar dipuja-puja sehingga arogansinya menjadi semakin perkasa”.

Mungkin karena zaman semakin kompleks sehingga orang jadi kebal dengan sesuatu yang wajar. Lihat saja film superhero zaman now. Gabole sebut merk ya, ntar kena semprit. Sepertinya udah bingung cerita mau diapain lagi semua superhero pada ngumpul jadi satu dengan adegan laga yg semakin heboh.

Dulu zaman masih seuprit saya inget liat film Samson di TVRI (aduh, jadi ketauan deh umurnya🀣). Punya body kebal bacok aja sambil gegayaan ala binaraga gitu udah bisa jadi superhero. Kalo zaman sekarang mau jadi superhero lebih syusyah. Harus bisa teleportasi, atau mentransformasi sel tubuhnya jadi super mini. Atau harus jadi anaknya Dewa dulu dan punya kemampuan melewati portal antar dunia. Harus tahan malu juga karena aturan pake sempak dan beha gabole sama dengan orang kebanyakan. Kalo sempaknya nggak keliatan nanti lisensi superheronya dicabut (udah mulai ngarang 🀣🀣). Yah pokoknya gitu deh, minimal harus bisa ngelawan hukum gravitasi, merayap-rayap di atap dan tembok tinggi.

Penjahatnyapun lebih freak dan krengki. Kerjaannya nggak cuma keliling hutan ala Mak Lampir yang sepertinya hobi banget mendelik kaya’ orang nggak pernah kelilipan, penjahat film masa kini nafsu menghancurkannya udah kaya’ mau ngeremet bumi. Sepertinya bingung obyek apalagi yang bisa dijadiin sasaran. Belum lagi barbarnya film zombie. Potong, iris, gergaji, pukul pake godam, dan sebagainya.

Saya baca cuplikan wawancara mbak Milenium yang kesebar di twitter kemarin, pas ditanya apa nggak takut liat video-video pemenggalan kepala di group pembibitan teroris yang dia ikuti?. Dia jawab kalo awalnya takut, tapi karena video pemenggalannya terus di update, lama-lama liatnya biasa aja. Bahkan ada tutorial gimana cara menggal kepala orang. Speechless ga sih bacanya?. Salah satu bukti bahwa stimulus visual yang berkesinambungan bisa sangat mempengaruhi sudut pandang seseorang. Jadi meskipun saya dan si mbak teroris punya kesamaan, sama-sama biasa ngangkat galon, tetapi outputnya jadi nggak sama. Karena yang sering saya liat bukan adegan penggal kepala, tetapi srimulat (tapi bo’ong πŸ˜…). Jadi kalo si mbak Milenium bercita-cita bisa manggul senjata di Suriah, saya maunya dipanggul sama babang cinta aja *eeaaa πŸ˜‚πŸ€£.

Bukan hanya kekerasan saja yang sudah overdose. Bahkan untuk takaran kebahagiaan, manusia sudah jadi sangat serakah. Serasa nggak cukup menutup cerita dengan “Akhirnya mereka hidup bahagia”, fantasi ending bahagia zaman sekarang adalah jadi benar-benar bisa hidup selamanya, nggak menua (jadi nggak bingung numpuk cream anti ageing), dan kaya-raya. Vampir lagi naik pamor, ditambahin kemampuan supranatural bisa nebak masa depan, bisa memprediksi naik turunnya saham. Cantik, ganteng, kaya, nggak bisa mati, kulitnya bagus, body bagus. Nggak perlu botox jidat dan tarik benang aptos buat mempercantik diri. Cukup mintalah digigit sama setan, anda akan mendapatkan kecantikan paripurna. Lain ladang lain belalang, dulu vampir ditendang, sekarang vampir disayang. Kekhayalan yang luar biasa. Keserakahan yang overdose. Penuhanan materi dan keduniawian, naudzubillah. Kebanyakan micin kalo saya bilang.

Intro kepanjangan, kita bahas Pooh aja sekarang. Sebenarnya apa sih yang menarik dari cerita klasik Pooh?.

Pooh digambarkan sebagai beruang yang rada telmi tapi baik hati dan setia kawan. Temannya banyak. Ada Eeyore keledai tua yang punya masalah self esteem dan setelah saya amati ada beberapa indikasi depresi ringan. Rabbit adalah kelinci yang sok tau dan memiliki kemampuan mengorganisir orang (Ada sedikit kemiripan sama caleg jaman sekarang ga? *eh 😜). Warga hutan menganggap Rabbit pintar dan punya otak. Namun menurut Pooh justru karena itu Rabbit tidak pernah memahami apa pun, Rabbit egois dan hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Ada Owl burung hantu yang jaim dan berusaha mempertahankan stigma “bijaksana” yang dimilikinya (padahal aslinya dia sering bingung juga kalo ditanya-tanya). Tigger yang polos, ceria apa adanya, juga Piglet yang lumayan bisa diajak mikir meskipun penakut. Selayaknya tidak ada cerita yang sempurna, sepertinya ini yang aneh dalam kisah ini. Kenapa yang dibikin bisa mikir, mengerti tata krama malah babi? πŸ˜…. Tidak ketinggalan tokoh Kanga, mamak rempong yang mendedikasikan hidupnya buat ngurusin Roo, anak kangguru yang berlimpahan kasih sayang. Tipe ibu-ibu pengamat yang dengan sekali lihat bisa mengetahui bahwa walaupun Tigger berbadan besar, sebenarnya dia membutuhkan banyak kasih sayang. Pola asuh Kanga yang penuh kasih sayang namun tegas menjadikan Roo fasih mengatakan “Ya, Rabbit”, dan “Tidak, Rabbit” daripada siapa pun di hutan. Roo punya pendirian.

Ceritanya berputar pada kehidupan para hewan di hutan Seratus Ekar. Tetapi A.A. Milne membubuhkan karakter yang luar biasa di setiap tokohnya. Entah berapa lama waktu yang dia habiskan untuk mengamati kehidupan orang-orang di sekitarnya, sebelum bisa menciptakan penokohan seperti ini.

Dari sekian banyak karakter yang diciptakannya, A.A. Milne seperti ingin mengedepankan satu hal: Bahwa pada dasarnya ada kebaikan dalam diri semua orang. Di zaman bom bunuh diri merajalela dan indikasi krisis kemanusiaan di beberapa belahan dunia seperti sekarang ini, semoga saja nilai-nilai positif yang terkandung dalam buku ini masih relevan untuk dipegang. Semoga kita semua bisa tetap waras di tengah dunia yang semakin renta. Semoga.

Sara Rosalinda
Yogyakarta, 30 Mei 2018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s