Metafora Tuhan Dalam Novel Semua Ikan di Langit

Judul: Semua Ikan di Langit

Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Penerbit: Grasindo

Tahun terbit: 2017

Tebal: 260 halaman

Judul novel ini terkesan ringan, namun ternyata tidak demikian. Sejujurnya saya membeli buku ini karena iklan di salah satu online bookstore langganan saya. Caption dalam iklan tersebut berbunyi seperti ini:

“Semua Ikan di Langit ditulis dengan keterampilan bahasa yang berada di atas rata-rata para peserta Sayembara kali ini. Novel ini mampu merekahkan miris dan manis pada saat bersamaan. Dan, perbedaan mutu yang tajam antara Pemenang Pertama dan naskah-naskah lainnya, membuat dewan juri tidak memilih pemenang-pemenang di bawahnya.”

-Laporan Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2016-

Setelah membaca itu, ada pertanyaan yang menggelayut manja di benak saya (Kalau bahasanya jadi agak lebay begini mohon dimaklumi ya, mungkin efek kebanyakan ngintip berita kawinannya Syahrini 😂). Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana sih mutu yang dibicarakan oleh para dewan juri itu?

Ketika buku pesanan datang, kalimat pembuka di halaman pertama mampu mengikat saya sampai halaman terakhir:

Ini adalah ingatan pertamaku: ikan terbang dan bintang. Dan selama bertahun-tahun, aku percaya bahwa ketika seseorang makan ikan, ia juga memakan bintang. Dan bahwa di dalam perutnya ada puluhan, ratusan, jutaan konstelasi yang belum pernah dilihat siapa pun. Konstelasi miliknya sendiri. Di langit pribadi dalam tubuhnya, mengapung bersama usus dan lambung dan semua organ dalam. Inilah kenapa perut orang jadi gendut kalau makan terlalu banyak: karena mereka perlahan-lahan menjadi planet, dimulai dari perut yang menyimpan begitu banyak konstelasi bintang.

(Hal. 1)

Kalimat pembuka yang absurd seperti itu membuat saya tidak lagi heran mengapa dalam buku ini tidak ada daftar isi, dan tokoh utamanya adalah benda mati (bus Damri).

Secara umum buku ini menceritakan perjalanan Bus Damri gendut bersama anak laki-laki kecil yang dia panggil Beliau dengan sekelompok ikan julung-julung melintasi ruang dan waktu. Kehidupan si Bus yang awalnya biasa-biasa saja berubah ketika Beliau mengajak Bus ke luar angkasa, meninggalkan trayek Dipatiukur-Leuwipanjang yang biasa dia lewati. Beliau ini merupakan penumpang yang istimewa. Beliau gemar menjahit dan mempunyai kekuatan ilahiah dalam menciptakan segala sesuatu.

Dalam perjalanan itu, mereka bertemu dengan banyak orang dan peristiwa, bahkan juga binatang. Mereka bertemu dengan Bastet, seekor kucing yang berasal dari kamar paling berantakan di dunia, tukang roti yang baik hati, tukang sepatu yang mencoba menjadi pintar, dan banyak tokoh lain yang bakalan panjang jika dijelaskan satu-persatu. Mereka juga bertemu dengan Nadezhda, seekor kecoa bule dari Rusia yang sangat cerdas dan penyayang. Kecoa ini akhirnya menjadi teman dekat Bus dan keduanya sering berdiskusi tentang banyak hal. Sebagai penganut faham anti kecoa, saya sempat bertanya-tanya, kenapa harus kecoa sih yang digambarkan penuh kasih, peka dan pintar? Setelah mengetahui bagaimana akhir hidup Nadezhda yang tetap saja sombong dengan meragukan Beliau padahal ada banyak petunjuk dan bukti yang bertebaran di sekitarnya, secara subyektif saya sepaham dengan mbak Ziggy 👻. Dari puluhan tokoh yang ada di buku ini, Ziggy berhasil membuat tiap karakternya unik dan otentik.

Bagi saya ini adalah novel tentang cinta. Bus Damri yang perlahan-lahan mencoba mengenal dan memahami Beliau akhirnya jatuh cinta pada Beliau. Beliau yang manis, yang selalu memperhatikan; yang tidak pernah tidur; tidak pernah istirahat; tidak pernah lelah; bisa menjahit hati yang patah; penyayang namun juga bisa marah; gemar menciptakan berbagai hal; dan gembira mendengar puji-pujian akan hasil karyanya itu, membuat Bus jatuh cinta padanya.

“Kebahagiaan Beliau melahirkan bintang. Kesedihan Beliau membunuh keajaiban. Kemarahan beliau berakibat fatal.”

(Hal. 62)

Selain tentang cinta, buku ini juga menceritakan tentang kehilangan, kehidupan, pertemanan, dan juga kesetiaan. Dengan jumlah halaman yang tidak terlalu tebal, bahasan yang ada di dalamnya cukup kompleks. Bahasa “dewa” yang sebelumnya saya bayangkan akan menghiasi buku ini ternyata tidak ada. Narasinya sederhana namun maknanya dalam. Bahkan gaya bertutur Ziggy seperti bahasa yang banyak kita temui pada buku anak. Tetapi justru dari pembahasan yang sederhana dan lugas ini pembaca jadi bisa merenungkan banyak hal. Mungkin penuturan seperti inilah yang membuat para juri sepakat tentang keterampilan bahasa Ziggy yang di atas rata-rata.

Cukup tentang isi novelnya, sekarang mari kita berbicara hal yang lebih penting. Adakah yang pernah membaca novel Little Prince karangan Antoine de Saint-Exupery? Nah, buku ini mengingatkan saya pada buku legendaris itu. Jika dalam novel Little Prince pasangan/wanita digambarkan dengan mawar, dalam buku ini Ziggy menggambarkan Beliau sebagai metafora dari Tuhan.

Setiap kisah dan tokoh yang diceritakan dalam buku ini merupakan alegori dari hubungan manusia dengan Tuhan. Ada banyak metafora yang digunakan Ziggy untuk mencoba mengurai, memahami sifat maupun takdir Tuhan yang terkadang sulit dipahami oleh manusia. Dia terkesan menyederhanakan kejadian yang terjadi di luar kuasa manusia, agar lebih mudah dipahami dan dicerna. Ziggy mengira-ngira apa sih yang dirasakan Tuhan? Apa sih maunya Tuhan dengan menciptakan segala hal?

“Akan tetapi, Beliau tetap tidak bicara, tidak menapak. Namun perasaan yang begitu kuat memberi tahu saya bahwa, meskipun Beliau berbuat demikian, bukan berarti Beliau tidak mau dipahami. Mungkin ini adalah ujian. Apakah saya akan terus mencoba memahami dan memperhatikannya, meskipun Beliau tidak berkomunikasi langsung kepada saya?”

(Hal. 33)

Menyadari kenyataan ini, lagi-lagi batin saya bergejolak (buk, plis buk, itu lho bahasamu 😅). Sebagai cerita fiksi, novel ini sangat imajinatif dan memikat. Membaca buku ini membuat saya kembali diingatkan betapa cintanya Allah kepada manusia.

Beliau mencintai saya terlebih dahulu. Dan saya mencintai Beliau karena Beliau mencintai saya seperti itu.

(Hal. 240)

Kisah yang terjalin di dalamnya menghangatkan hati. Namun saya tidak sepakat dengan beberapa metafora yang digunakan oleh penulis, seperti metafora yang digunakan Ziggy untuk menggambarkan Tuhan.

Sebagai muslim, saya mengimani bahwa Allah berbeda dengan makhluknya. Dalam ilmu Tauhid disebut Mukhalafatulil Hawadits yang artinya Allah berbeda dengan ciptaanNya. Keputusan yang sembrono ketika memetaforakan Allah yang maha sempurna dengan penampakan seorang bocah lelaki kecil yang kesepian, mengambang dan butuh teman seperjalanan. Meskipun terkesan “lebih mudah dipahami”, celah-celah seperti itu dikhawatirkan akan menyebabkan hal yang fatal dalam memahami tauhid.

QS Asy-Syura 42:11

“… Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia yang Maha Mendengar,Maha Melihat.”

Walaupun dibalut dengan kisah dan diksi yang indah, namun tetap terasa ada yang salah. Akan tetapi karena ini adalah kisah fiksi, intepretasi pembaca tentu saja berbeda-beda. Saya hanya menyarankan agar novel ini dibaca oleh pembaca yang benar-benar sudah dewasa.

Yogyakarta, 12 Maret 2019

Iklan

3 respons untuk ‘Metafora Tuhan Dalam Novel Semua Ikan di Langit’

  1. Woo bravo! Ulasan yang menarik tentang sebuah buku yang aku jadi gemas ingin juga segera membacanya (Sabar vie.. Setelah lewat deadline mu yang bertumpuk-tumpuk itu!) haha Buku yang menggunakan metafora selalu menarik untuk dibaca. Selalu…

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s